, ,

Kotim Siaga Darurat Karhutla 30 Hari Kebakaran Marak Penyakit Pernapasan dan Diare Meningkat

oleh -697 Dilihat
oleh
Kotim Siaga Darurat Karhutla

Kotim Siaga Darurat Karhutla 30 Hari Kebakaran Marak, Penyakit Pernapasan dan Diare Meningkat

Laporan Solok – Kotim Siaga Darurat Karhutla Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, telah resmi menetapkan status siaga darurat karhutla (kebakaran hutan dan lahan) selama 30 hari ke depan, setelah kebakaran hutan yang melanda beberapa wilayah di daerah tersebut mencapai titik puncaknya. Kebakaran besar ini tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah, tetapi juga berimbas pada kesehatan masyarakat setempat, dengan meningkatnya angka kasus penyakit pernapasan dan diare akibat asap tebal yang melanda.

Pemerintah Kabupaten Kotim telah mengeluarkan instruksi darurat dan menghimbau seluruh masyarakat untuk menghindari aktivitas luar ruangan yang berisiko, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan. Bencana karhutla ini juga mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi di Kotim, karena banyak aktivitas pertanian dan perdagangan yang terhenti akibat asap yang menutupi sebagian besar wilayah.

Penyakit Pernafasan dan Diare Meningkat Signifikan

Dalam beberapa minggu terakhir, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kotim melaporkan lonjakan signifikan dalam jumlah pasien yang terjangkit penyakit pernapasan seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan radang paru-paru. Selain itu, kasus diare juga tercatat meningkat, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan lainnya.

Dr. Ardiansyah, Kepala RSUD Kotim, menjelaskan bahwa hampir setiap hari pihak rumah sakit menerima pasien dengan keluhan sesak napas, batuk, dan demam tinggi yang disebabkan oleh paparan asap kebakaran. “Kami telah menangani lebih dari seratus pasien dengan keluhan pernapasan dalam beberapa hari terakhir. Asap yang menyebar akibat kebakaran hutan menyebabkan irritasi pada saluran pernapasan, yang semakin buruk dengan paparan jangka panjang,” jelas Dr. Ardiansyah.

Selain penyakit pernapasan, kasus diare juga meningkat, yang sebagian besar dipicu oleh kualitas air yang terganggu akibat kebakaran. “Air yang tercemar asap dan debu kebakaran dapat menyebabkan gangguan pencernaan, terutama pada anak-anak. Kami juga khawatir tentang ketersediaan air bersih, yang semakin terbatas,” tambahnya.Karhutla di Kotim hanguskan enam hektare lahan - ANTARA News Kalteng

Baca Juga: Banjir di Jakarta Sore Ini Catat Titik Genangan yang Perlu Dihindari Saat Pulang Kerja

Dampak Lingkungan dan Kesehatan yang Meningkat

Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam kesehatan fisik warga, tetapi juga menyebabkan dampak psikologis yang cukup besar. Banyak warga yang melaporkan merasa cemas dan khawatir dengan kondisi yang semakin buruk. Suhu udara yang meningkat serta tingginya konsentrasi polutan di udara membuat mereka terpaksa bertahan di dalam rumah untuk menghindari paparan asap.

Pemerintah daerah Kotim bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim juga telah bekerja sama dengan berbagai organisasi kemanusiaan dan lembaga terkait untuk menyediakan bantuan masker kesehatan dan obat-obatan bagi warga yang terdampak. “Kami sedang mendistribusikan masker gratis di sejumlah titik pengungsian, dan kami juga memastikan bahwa pelayanan kesehatan terus berjalan meski kami dalam situasi darurat,” ujar Bupati Kotim, H. Supian Hadi.

Kotim Siaga Darurat Karhutla Proses Penanggulangan Karhutla

“Upaya pemadaman sudah kami lakukan secara maksimal, namun tantangan cuaca dan luasnya wilayah yang terbakar membuat pekerjaan kami semakin sulit. Kami juga terus bekerja sama dengan BPBD Provinsi dan pihak terkait untuk mempercepat proses pemadaman,” ujar Kepala BPBD Kotim, Sudirman.

Namun, meski ada upaya besar untuk memadamkan api, kebakaran yang terjadi di wilayah hutan gambut sangat sulit untuk dipadamkan dengan cepat. Kebakaran yang melibatkan lahan gambut cenderung membakar lebih dalam dan memerlukan waktu lama untuk benar-benar padam.

Dukungan dari Pemerintah dan Masyarakat

Selain bantuan medis, pemerintah daerah juga bekerja sama dengan TNI, Polri, dan organisasi kemanusiaan untuk menyediakan makanan dan perlengkapan hidup bagi para pengungsi dan masyarakat yang terpaksa mengungsi akibat kebakaran.

Indosat

No More Posts Available.

No more pages to load.